Showing posts with label KTI. Show all posts
Showing posts with label KTI. Show all posts

Friday, March 16, 2018

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)


Penelitian Tindakan Kelas
(Classroom Action Research)


A. PENGERTIAN

Belakangan ini Penelitian Tindakan Kelas (PTK) semakin menjadi trend untuk dilakukan oleh para profesional sebagai upaya pemecahan masalah dan peningkatan mutu di berbagai bidang. Awal mulanya, PTK, ditujukan untuk mencari solusi terhadap masalah sosial (pengangguran, kenakalan remaja, dan lain-lain) yang berkembang di masyarakat pada saat itu. PTK dilakukan dengan diawali oleh suatu kajian terhadap masalah tersebut secara sistematis. Hal kajian ini kemudian dijadikan dasar untuk mengatasi masalah tersebut. Dalam proses pelaksanaan rencana yang telah disusun, kemudian dilakukan suatu observasi dan evaluasi yang dipakai sebagai masukan untuk melakukan refleksi atas apa yang terjadi pada tahap pelaksanaan. Hasil dari proses refeksi ini kemudian melandasi upaya perbaikan dan peryempurnaan rencana tindakan berikutnya. Tahapan-tahapan di atas dilakukan berulang-ulang dan berkesinambungan sampai suatu kualitas keberhasilan tertentu dapat tercapai.

Dalam bidang pendidikan, khususnya kegiatan pembelajaran, PTK berkembang sebagai suatu penelitian terapan. PTK sangat bermanfaat bagi guru untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran di kelas. Dengan melaksanakan tahap-tahap PTK, guru dapat menemukan solusi dari masalah yang timbul di kelasnya sendiri, bukan kelas orang lain, dengan menerapkan berbagai ragam teori dan teknik pembelajaran yang relevan secara kreatif. Selain itu sebagai penelitian terapan, disamping guru melaksanakan tugas utamanya mengajar di kelas, tidak perlu harus meninggalkan siswanya. Jadi PTK merupakan suatu penelitian yang mengangkat masalah-masalah aktual yang dihadapi oleh guru di lapangan. Dengan melaksanakan PTK, guru mempunyai peran ganda : praktisi dan peneliti.

Classroom action research (CAR) adalah action research yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Action research pada hakikatnya merupakan rangkaian “riset-tindakan-riset-tindakan- …”, yang dilakukan secara siklik, dalam rangka memecahkan masalah, sampai masalah itu terpecahkan. Ada beberapa jenis action research, dua di antaranya adalah individual action research dan collaborative action research (CAR). Jadi CAR bisa berarti dua hal, yaitu classroom action research dan collaborative action research; dua-duanya merujuk pada hal yang sama.

Action research termasuk penelitian kualitatif walaupun data yang dikumpulkan bisa saja bersifat kuantitatif. Action research berbeda dengan penelitian formal, yang bertujuan untuk menguji hipotesis dan membangun teori yang bersifat umum (general). Action research lebih bertujuan untuk memperbaiki kinerja, sifatnya kontekstual dan hasilnya tidak untuk digeneralisasi. Namun demikian hasil action research dapat saja diterapkan oleh orang lain yang mempunyai latar yang mirip dengan yang dimliki peneliti.

Perbedaan antara penelitian formal dengan classroom action research disajikan dalam tabel berikut.

Tabel 1. Perbedaan antara Penelitian Formal dengan Classroom Action Research

Penelitian Formal

Classroom Action Research

Dilakukan oleh orang lain

Dilakukan oleh guru/dosen

Sampel harus representatif

Kerepresentatifan sampel tidak diperhatikan

Instrumen harus valid dan reliabel

Instrumen yang valid dan reliabel tidak diperhatikan

Menuntut penggunaan analisis statistik

Tidak diperlukan analisis statistik yang rumit

Mempersyaratkan hipotesis

Tidak selalu menggunakan hipotesis

Mengembangkan teori

Memperbaiki praktik pembelajaran secara langsung

           
           
B. Mengapa Penelitian Tindakan Kelas Penting ?

Ada beberapa alasan mengapa PTK merupakan suatu kebutuhan bagi guru untuk meningkatkan profesional seorang guru :

1.      PTK sangat kondusif untuk membuat guru menjadi peka tanggap terhadap dinamika pembelajaran di kelasnya. Dia menjadi reflektif dan kritis terhadap lakukan.apa yang dia dan muridnya
2.      PTK dapat meningkatkan kinerja guru sehingga menjadi profesional. Guru tidak lagi sebagai seorang praktis, yang sudah merasa puas terhadap apa yang dikerjakan selama bertahun-tahun tanpa ada upaya perbaikan dan inovasi, namun juga sebagai peneniliti di bidangnya.
3.      Dengan melaksanakan tahapan-tahapan dalam PTK, guru mampu memperbaiki proses pembelajaran melalui suatu kajian yang dalam terhadap apa yang terhadap apa yang terjadi di kelasnya. Tindakan yang dilakukan guru semata-mata didasarkan pada masalah aktual dan faktual yang berkembang di kelasnya.
4.      Pelaksanaan PTK tidak menggangu tugas pokok seorang guru karena dia tidak perlu meninggalkan kelasnya. PTK merupakan suatu kegiatan penelitian yang terintegrasi dengan pelaksanaan proses pembelajaran.
5.      Dengan melaksanakan PTK guru menjadi kreatif karena selalu dituntut untuk melakukan upaya-upaya inovasi sebagai implementasi dan adaptasi berbagai teori dan teknik pembelajaran serta bahan ajar yang dipakainya.
6.      Penerapan PTK dalam pendidikan dan pembelajaran memiliki tujuan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktek pembelajaran secara berkesinambungan sehingga meningkatan mutu hasil instruksional; mengembangkan keterampilan guru; meningkatkan relevansi; meningkatkan efisiensi pengelolaan instruksional serta menumbuhkan budaya meneliti pada komunitas guru.

C. Hakikat Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pertama kali diperkenalkan oleh ahli psikologi sosial Amerika yang bernama Kurt Lewin pada tahun 1946. Inti gagasan Lewin inilah yang selanjutnya dikembangkan oleh ahli-ahli lain seperti Stephen Kemmis, Robin McTaggart, John Elliot, Dave Ebbutt, dan sebagainya.

PTK di Indonesia baru dikenal pada akhir dekade 80-an. Oleh karenanya, sampai dewasa ini keberadaannya sebagai salah satu jenis penelitian masih sering menjadikan pro dan kontra, terutama jika dikaitkan dengan bobot keilmiahannya.

Jenis penelitian ini dapat dilakukan didalam bidang pengembangan organisasi, manejemen, kesehatan atau kedokteran, pendidikan, dan sebagainya. Di dalam bidang pendidikan penelitian ini dapat dilakukan pada skala makro ataupun mikro. Dalam skala mikro misalnya dilakukan di dalam kelas pada waktu berlangsungnya suatu kegiatan belajar-mengajar untuk suatu pokok bahasan tertentu pada suatu mata kuliah. Untuk lebih detailnya berikut ini akan dikemukan mengenai hakikat PTK.

Menurut John Elliot bahwa yang dimaksud dengan PTK ialah kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya (Elliot, 1982). Seluruh prosesnya, telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan pengaruh menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi diri dari perkembangan profesional. Pendapat yang hampir senada dikemukakan oleh Kemmis dan Mc Taggart, yang mengatakan bahwa PTK adalah suatu bentuk refleksi diri kolektif yang dilakukan oleh peserta–pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik-praktik itu dan terhadap situasi tempat dilakukan praktik-praktik tersebut (Kemmis dan Taggart, 1988).

Menurut Carr dan Kemmis seperti yang dikutip oleh Siswojo Hardjodipuro, dikatakan bahwa yang dimaksud dengan istilah PTK adalah suatu bentuk refleksi diri yang dilakukan oleh para partisipan (guru, siswa atau kepala sekolah) dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran (a) praktik-praktik sosial atau pendidikan yang dilakukan dilakukan sendiri, (b) pengertian mengenai praktik-praktik ini, dan (c) situasi-situasi ( dan lembaga-lembaga ) tempat praktik-praktik tersebut dilaksanakan (Harjodipuro, 1997).

Lebih lanjut, dijelaskan oleh Harjodipuro bahwa PTK adalah suatu pendekatan untuk memperbaiki pendidikan melalui perubahan, dengan mendorong para guru untuk memikirkan praktik mengajarnya sendiri, agar kritis terhadap praktik tersebut dan agar mau utuk mengubahnya. PTK bukan sekedar mengajar, PTK mempunyai makna sadar dan kritis terhadap mengajar, dan menggunakan kesadaran kritis terhadap dirinya sendiri untuk bersiap terhadap proses perubahan dan perbaikan proses pembelajaran. PTK mendorong guru untuk berani bertindak dan berpikir kritis dalam mengembangkan teori dan rasional bagi mereka sendiri, dan bertanggung jawab mengenai pelaksanaan tugasnya secara profesional.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, jelaslah bahwa dilakukannya PTK adalah dalam rangka guru bersedia untuk mengintropeksi, bercermin, merefleksi atau mengevalusi dirinya sendiri sehingga kemampuannya sebagai seorang guru/pengajar diharapkan cukup professional untuk selanjutnya, diharapkan dari peningkatan kemampuan diri tersebut dapat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas anak didiknya, baik dalam aspek penalaran; keterampilan, pengetahuan hubungan sosial maupun aspek-aspek lain yang bermanfaat bagi anak didik untuk menjadi dewasa.

Dengan dilaksanakannya PTK, berarti guru juga berkedudukan sebagai peneliti, yang senantiasa bersedia meningkatkan kualitas kemampuan mengajarnya. Upaya peningkatan kualitas tersebut diharapkan dilakukan secara sistematis, realities, dan rasional, yang disertai dengan meneliti semua “ aksinya di depan kelas sehingga gurulah yang tahu persis kekurangan-kekurangan dan kelebihannya. Apabila di dalam pelaksanaan “aksi” nya masih terdapat kekurangan, dia akan bersedia mengadakan perubahan sehingga di dalam kelas yang menjadi tanggungjawabnya tidak terjadi permasahan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan PTK ialah suatu penelitian yang dilakukan secara sistematis reflektif terhadap berbagai tindakan yang dilakukan oleh guru yang sekaligus sebagai peneliti, sejak disusunnya suatu perencanaan sampai penilaian terhadap tindakan nyata di dalam kelas yang berupa kegiatan belajar-mengajar, untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan. Sementara itu, dilaksanakannya PTK di antaranya untuk meningkatkan kualitas pendidikan atau pangajaran yang diselenggarakan oleh guru/pengajar-peneliti itu sendiri, yang dampaknya diharapkan tidak ada lagi permasalahan yang mengganjal di kelas.

Jenis dan Model PTK

Sebagai paradigma sebuah penelitian tersendiri, jenis PTK memiliki karakteristik yang relatif agak berbeda jika dibandingkan dengan jenis penelitian yang lain, misalnya penelitian naturalistik, eksperimen survei, analisis isi, dan sebagainya. Jika dikaitkan dengan jenis penelitian yang lain PTK dapat dikategorikan sebagai jenis penelitian kualitatif dan eksperimen. PTK dikatagorikan sebagai penelitian kualitatif karena pada saat data dianalisis digunakan pendekatan kualitatif, tanpa ada perhitungan statistik. Dikatakan sebagai penelitian eksperimen, karena penelitian ini diawali dengan perencanaan, adanya perlakuan terhadap subjek penelitian, dan adanya evaluasi terhadap hasil yang dicapai sesudah adanya perlakuan. Ditinjau dari karakteristiknya, PTK setidaknya memiliki karakteristik antara lain: (1) didasarkan pada masalah yang dihadapi guru dalam instruksional; (2) adanya kolaborasi dalam pelaksanaannya; (3) penelitian sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi; (4) bertujuan memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktek instruksional; (5) dilaksanakan dalam rangkaian langkah dengan beberapa siklus.

Menurut Richart Winter ada enam karekteristik PTK, yaitu (1) kritik reflektif, (2) kritik dialektis, (3) kolaboratif, (4) resiko, (5) susunan jamak, dan (6) internalisasi teori dan praktek (Winter, 1996). Untuk lebih jelasnya, berikut ini dikemukakan secara singkat karakteristik PTK tersebut.

1.      Kritik Refeksi; salah satu langkah di dalam penelitian kualitatif pada umumnya, dan khususnya PTK ialah adanya upaya refleksi terhadap hasil observasi mengenai latar dan kegiatan suatu aksi. Hanya saja, di dalam PTK yang dimaksud dengan refleksi ialah suatu upaya evaluasi atau penilaian, dan refleksi ini perlu adanya upaya kritik sehingga dimungkinkan pada taraf evaluasi terhadap perubahan-perubahan.
2.      Kritik Dialektis; dengan adanyan kritik dialektif diharapkan penelitian bersedia melakukan kritik terhadap fenomena yang ditelitinya. Selanjutnya peneliti akan bersedia melakukan pemeriksaan terhadap: (a) konteks hubungan secara menyeluruh yang merupakan satu unit walaupun dapat dipisahkan secara jelas, dan, (b) Struktur kontradiksi internal, -maksudnya di balik unit yang jelas, yang memungkinkan adanya kecenderungan mengalami perubahan meskipun sesuatu yang berada di balik unit tersebut bersifat stabil.
3.      Kolaboratif; di dalam PTK diperlukan hadirnya suatu kerja sama dengan pihak-pihak lain seperti atasan, sejawat atau kolega, mahasiswa, dan sebagainya. Kesemuanya itu diharapkan dapat dijadikan sumber data atau data sumber. Mengapa demikian? Oleh karena pada hakikatnya kedudukan peneliti dalam PTK merupakan bagian dari situasi dan kondisi dari suatu latar yang ditelitinya. Peneliti tidak hanya sebagai pengamat, tetapi dia juga terlibat langsung dalam suatu proses situasi dan kondisi. Bentuk kerja sama atau kolaborasi di antara para anggota situasi dan kondisi itulah yang menyebabkan suatu proses dapat berlangsung.Kolaborasi dalam kesempatan ini ialah berupa sudut pandang yang disampaikan oleh setiap kolaborator. Selanjutnya, sudut pandang ini dianggap sebagai andil yang sangat penting dalam upaya pemahaman terhadap berbagai permasalahan yang muncul. Untuk itu, peneliti akan bersikap bahwa tidak ada sudut pandang dari seseorang yang dapat digunakan untuk memahami sesuatu masalah secara tuntas dan mampu dibandingkan dengan sudut pandang yang berasal; dari berbagai pihak. Namun demikian memperoleh berbagai pandangan dari pada kolaborator, peneliti tetap sebagai figur yang memiliki ,kewenangan dan tanggung jawab untuk menentukan apakah sudut pandang dari kolaborator dipergunakan atau tidak. Oleh karenanya, sdapat dikatakan bahwa fungsi kolaborator hanyalah sebagai pembantu di dalam PTK ini, bukan sebagai yang begitu menentukan terhadap pelaksaanan dan berhasil tidaknya penelitian.
4.      Resiko; dengan adanya ciri resiko diharapkan dan dituntut agar peneliti berani mengambil resiko, terutama pada waktu proses penelitian berlangsung. Resiko yang mungkin ada diantaranya (a) melesetnya hipotesis dan (b) adanya tuntutan untuk melakukan suatu transformasi. Selanjutnya, melalui keterlibatan dalam proses penelitian, aksi peneliti kemungkinan akan mengalami perubahan pandangan karena ia menyaksikan sendiri adanya diskusi atau pertentangan dari para kalaborator dan selanjutnya menyebabkan pandangannya berubah.
5.      Susunan Jamak; pada umumnya penelitian kuantitatif atau tradisional berstruktur tunggal karena ditentukan oleh suara tunggal, penelitinya. Akan tetapi, PTK memiliki struktur jamak karena jelas penelitian ini bersifat dialektis, reflektif, partisipasi atau kolaboratif. Susunan jamak ini berkaitan dengan pandangan bahwa fenomena yang diteliti harus mencakup semua komponen pokok supaya bersifat komprehensif. Suatu contoh, seandainya yang diteliti adalah situasi dan kondisi proses belajar-mengajar, situasinya harus meliputi paling tidak guru, siswa, tujuan pendidikan, tujuan pembelajaran, interaksi belajar-mengajar, lulusan atau hasil yang dicapai, dan sebagainya.
6.      Internalisasi Teori dan Praktik; Menurut pandangan para ahli PTK bahwa antara teori dan praktik bukan merupakan dua dunia yang berlainan. Akan tetapi, keduanya merupakan dua tahap yang berbeda, yang saling bergantung, dan keduanya berfungsi untuk mendukung tranformasi. Pendapat ini berbeda dengan pandangan para ahli penelitian konvesional yang beranggapan bahwa teori dan praktik merupakan dua hal yang terpisah. Keberadaan teori diperuntukkan praktik, begitu pula sebaliknya sehingga keduanya dapat digunakan dan dikembangkan bersama.


Berdasarkan uraian di atas, jelaslah bahwa bentuk PTK benar-benar berbeda dengan bentuk penelitian yang lain, baik itu penelitian yang menggunakan paradigma kualitatif maupun paradigma kualitatif. Oleh karenanya, keberadaan bentuk PTK tidak perlu lagi diragukan, terutama sebagai upaya memperkaya khasanah kegiatan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan taraf keilmiahannya.
Continue reading PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

Saturday, February 10, 2018

,

10 CARA MENARIK PERHARTIAN SISWA

Anda mungkin sudah memiliki beberapa trik untuk mempertahankan dan mendapatkan kembali perhatian siswa Anda. Tapi saya mencoba untuk menambahkan tip yang mungkin baru buat anda untuk menarik perhatian siswa saat anda mengajar di kelas.
Simak 10 cara untuk mengambil perhatian siswa :

  1. 1.Jelas.

Di awal kelas - atau tahun pelajaran baru -komunikasikan harapan Anda dengan jelas. Jika Anda memiliki petunjuk khusus yang ingin Anda sampaikan kepada siswa  untuk sebuah proyek atau kegiatan, pastikan untuk mengungkapkannya dengan cara yang mudah dimengerti dan tidak menimbulkan kebingungan. Komunikasi yang jelas dan efektif sangat penting untuk menjaga perhatian siswa Anda.
  1. 2.      Sabar.

Tentu saja, waktu sangat berharga, tapi terkadang hanya menunggu dengan tenang agar setiap siswa Anda memfokuskan kembali perhatian mereka pada pelajaran, dan Anda ungkapkan betapa pentingnya bagi siswa untuk memperhatikan guru mereka. .
  1. 3     Bernyanyi Bersama.

Memulai pelajaran dengan bernyanyi bersama salah satu lagu favorit mereka adalah cara yang menyenangkan untuk mendapatkan kembali perhatian mereka. Sebelum kelas dimulai, isilah lagu favorit, setelah selesai baruk masuk pada pelajaran.
  1. 4.      Bermain.

Persaingan yang singkat dan menyenangkan mungkin yang Anda butuhkan untuk tetap memperhatikan siswa Anda. Strategi ini paling baik diterapkan saat Anda melihat bahwa fokus mereka menyimpang. Menawarkan pemecahan otak yang cepat dengan permainan seperti "tekateki" atau "kuis" akan memudahkan kelas Anda untuk berkumpul kembali dan mempertahankan fokus mereka saat kembali ke pelajaran.
  1. 5.      Hentikan Nada.

Anda tidak perlu menggunakan kata-kata untuk mendapatkan kembali perhatian siswa Anda. Cobalah membunyikan bel, memukul garpu tala, atau mematikan lampu untuk mengembalikan kelas ke tugas yang sedang Anda hadapi.
  1. 6.      Terbang seperti kupu-kupu, duduk pelan seperti lebah.

Jika siswa Anda naik dan turun dari tempat duduk mereka untuk suatu aktivitas, dan waktunya tepat bagi mereka untuk kembali ke meja kerja mereka, mintalah mereka melakukannya sambil meniru kupu-kupu atau lebah. Hewan dan serangga yang bergerak baik dengan tenang dan cepat adalah pilihan bagus, tapi jauhi lamban dan penyu. Meski sepi, kelas mungkin akan berakhir sebelum mereka kembali ke tempat duduk mereka.
  1. 7.      Hitungan mundur

Hitung mundur dari 10 saat menceritakan harapan Anda ke kelas. Begitu Anda mencapai nol, kelas Anda akan memiliki cukup waktu untuk menyelesaikan pekerjaan mereka dan mengakhiri percakapan sebelum melanjutkan ke tugas berikutnya.
  1. 8.      Meraih perhatian yang cermat.

Ungkapan seperti "fokus hocus, fokus semua orang" dan "mac dan keju, semua orang membeku" adalah cara yang menyenangkan dan efektif untuk mendapatkan kembali perhatian siswa Anda.
  1. 9.      Panggilan dan tanggapan

Jika Anda berkata, "Andi, berhenti." Dan semua siswa Anda merespons, Maka Anda tahu bahwa Anda telah mendapatkan kembali mata pelajaran dan telinga siswa Anda.
  1. 10.  Lakukan yang tak terduga


Tidak ada cara yang lebih baik untuk mendapatkan kembali perhatian siswa Anda daripada melakukan sesuatu yang sama sekali tidak terduga. Entah Anda memiliki keinginan untuk berdiri di depan kelas dan lolongan seperti serigala atau Anda berpikir memutar-mutar beberapa jack melompat adalah hal terakhir yang diharapkan siswa terhadap guru mereka, cobalah. Kejutan tindakan Anda akan membantu siswa Anda sehingga mereka dapat memberi Anda perhatian penuh mereka. 
Continue reading 10 CARA MENARIK PERHARTIAN SISWA
,

Trik Menghitung Prosentase Lebih Cepat dari Kalkulator


Tunjukkan jika Anda orang yang tidak bergantung pada kalkulator dalam menghitung.
berikut ini saya tunjukkan cara menghitung prosentase.

Cara tercepat untuk menghitung persentase adalah dengan mengalikan angka terlebih dahulu dan mengabaikan dua angka desimal dibelakangnya.
Ingat bahwa "persen" berarti pecahan dari 100, yang berarti memindahkan desimal dua digit ke kiri.

  • 20 persen dari 70 =.....?
  • 20 kali 70 sama dengan 1400, jadi jawabannya adalah 14.
  • Perhatikan bagaimana 70 persen dari 20 juga 14
30% x 60 = 18
40% x 80 = 32
60% x 75 = 45 ===> 6 x 7    = 42
                                   6 x 0,5 =   3,0
                                  --------------
                                                45
30% x 64 = 19,2 ====> 3 x 6    = 18
                                        3 x 0,4 =   1,2
                                       ------------------
                                                        19,2

gimana ....? mudahkan.....?
selanjutnya silahkan Anda coba dengan angka yang lain!!!
Continue reading Trik Menghitung Prosentase Lebih Cepat dari Kalkulator
,

Delapan strategi untuk memotivasi siswa

Delapan  strategi untuk memotivasi siswa semangat belajar.
  1. Menjadi Role Model bagi Siswa. Sampaikan materi dengan energi dan antusiasme. Tunjukkan semangat Anda memotivasi siswa. tunjukkan mengapa Anda tertarik dengan materi yang anda sampaikan.
  2. Kenali Murid  Anda. Anda akan dapat menyesuaikan instruksi yang tepat yang sesuai dengan perhatian dan latar belakang siswa, sikap ketertarikan Anda terhadap mereka akan mengilhami kesetiaan mereka kepada Anda. Tunjukkan minat yang kuat pada pembelajaran dan keyakinan akan kemampuan mereka.
  3. Gunakan contoh dengan bebas. Banyak siswa ingin ditunjukkan mengapa sebuah konsep atau teknik berguna sebelum mereka ingin mempelajarinya lebih jauh. Informasikan kepada siswa tentang bagaimana pembelajaran Anda mempersiapkan siswa untuk mendapatkan kesempatan di masa depan.
  4. Gunakan berbagai metode mengajar siswa-aktif. Kegiatan ini secara langsung melibatkan siswa dalam materi dan memberi mereka kesempatan untuk mencapai tingkat penguasaan. Ajarkan dengan penemuan. Siswa merasa puas memahami penalaran melalui suatu masalah dan menemukan prinsip dasar mereka sendiri. Kegiatan belajar kooperatif sangat efektif karena juga memberikan tekanan sosial yang positif.
  5. Tetapkan tujuan belajar yang realistis dan bantu siswa mencapainya dengan mendorong mereka untuk menetapkan tujuan mereka sendiri yang masuk akal. Desain tugas yang tepat, menantang dengan memperhatikan pengalaman dan bakat kelas.
  6. Poisikan penekanan yang tepat pada test dan penilaian. Tes harus menjadi sarana untuk menunjukkan apa yang telah dikuasai oleh siswa, bukan apa yang tidak mereka ketahui. Hindari penilaian pada kurva dan berikan semua orang kesempatan untuk mencapai standar dan nilai tertinggi.
  7. Beri pujian dan kritik yang membangun. Komentar negatif harus berkaitan dengan pertunjukan tertentu, bukan pemain. Menawarkan umpan balik yang tidak menghakimi atas karya siswa, beri peluang untuk memperbaiki, mencari cara untuk merangsang kemajuan, dan hindari membagi siswa menjadi kelompok pintar dan bodoh.
  8. Biarkan siswa mengontrol pendidikan mereka sendiri. Biarkan siswa memilih topik dan proyek yang menarik minat mereka. Kaji dengan berbagai cara (tes, makalah, proyek, presentasi, dll.) Untuk memberi siswa lebih banyak kendali atas bagaimana mereka menunjukkan pemahaman mereka kepada Anda. Beri siswa pilihan bagaimana tugas ini dinilai.



Continue reading Delapan strategi untuk memotivasi siswa